jump to navigation

Separuh Batu Matamu July 31, 2007

Posted by diksi in puisi.
trackback

isaac-sketchsmall1.jpg

Pagi ini setiap wajah berwarna ungu, sendu dan nisbi. Matahari terpencil jauh menukik daun-daun yang sekarat di atas atap. Benar fi, itu atap rumah puisi berambut gondrong dengan pita panjang pertempuran diri. Sedikit kriting. Samar-samar kita dengarkan setumpuk keluh dari sini, negeri yang cengeng dan pencaci. Masih setengah setan. Kekalahanku yang paling lusuh padamu, aku, ah, aku selalu tersandung menapaki sorot matamu. Adakah kau menyimpan batu di tengah perjalanan pandangku? Ataujangan-jangan sulaman kataku terlalu berketombe, hingga retina hanya mampu menangkap ketombe yang menjelma bola-bola salju sebesar Superbumi. Cintaku padamu. Bagaimana harus kujanjikan kemegahan hari-hari bagi cintaku, kau seluruh bening keindahan-memang sedikit kubesar-besarkan. Sedang aku, yang kumiliki hanya puisi berambut gondrong dan jarang mandi, dengan batu-batu yang nyeri. Separuh batu matamu. Malam nanti,

aku pasti letih mengingatmu

[zaki]

Comments»

No comments yet — be the first.