Apa yang kaucari sepanjang malam. Hingga pagi. Termenung menunggu matahari. Seminggu, setahun, sampai berabad-abad, kau diasingkan dari kebahagiaanmu sendiri. Ataukah puisi yang selama ini membuatmu bahagia?
Untuk beberapa malam kaubisa juga tergoda. Ambisi menjadi sosok pahlawan itu muncul tiba-tiba. Kautepis. Kaya dan mapan, atau apapun namanya, katamu. Kemegahan di persinggahan ini lebih licik dari penipu paling licik sekalipun.
Bila pagi telah datang dan kau tertidur lagi, meninggalkan dunia orang-orang yang kaucinta. Tiada benci. Kauhebat menghancurkan rasa bencimu sendiri. Pada siapapun, apapun. Iya, bila tanpa sengaja kautertidur lagi, dan lebih banyak orang menghujatmu, kau diam saja, tetap diam. Kauyakin berkilah itu pengecut, dan kau jarang, bahkan tidak pernah melakukannya.
Kini kaumelayang, tertunduk di bawah sebuah dimensi dunia penuh nafsu, langkah-langkah yang berdarah.
Diam-diam terus saja puisi itu kautulis. Ada harapan untuk satu dua kata yang, katanya mampu merubah dunia. Kaupercaya, mungkin satu dua makna mampu membilas darah-darah yang tercecer. Mungkin juga, kaupernah menyamar jadi diriku. Duduk satu bangku pada sebuah meja pertapaan yang kusam

speechless….