meja pertapaan

Posted: September 4, 2007 in puisi

Apa yang kaucari sepanjang malam. Hingga pagi. Termenung menunggu matahari. Seminggu, setahun, sampai berabad-abad, kau diasingkan dari kebahagiaanmu sendiri. Ataukah puisi yang selama ini membuatmu bahagia?

Untuk beberapa malam kaubisa juga tergoda. Ambisi menjadi sosok pahlawan itu muncul tiba-tiba. Kautepis. Kaya dan mapan, atau apapun namanya, katamu. Kemegahan di persinggahan ini lebih licik dari penipu paling licik sekalipun.
Bila pagi telah datang dan kau tertidur lagi, meninggalkan dunia orang-orang yang kaucinta. Tiada benci. Kauhebat menghancurkan rasa bencimu sendiri. Pada siapapun, apapun. Iya, bila tanpa sengaja kautertidur lagi, dan lebih banyak orang menghujatmu, kau diam saja, tetap diam. Kauyakin berkilah itu pengecut, dan kau jarang, bahkan tidak pernah melakukannya.
Kini kaumelayang, tertunduk di bawah sebuah dimensi dunia penuh nafsu, langkah-langkah yang berdarah.
Diam-diam terus saja puisi itu kautulis. Ada harapan untuk satu dua kata yang, katanya mampu merubah dunia. Kaupercaya, mungkin satu dua makna mampu membilas darah-darah yang tercecer. Mungkin juga, kaupernah menyamar jadi diriku. Duduk satu bangku pada sebuah meja pertapaan yang kusam

Comments

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s