zaman ular September 4, 2007
Posted by diksi in puisi.trackback
: dua potong sajak untuk angkatanku
(i)
Ambisi hanyalah untuk orang muda
Dan lihat, aku masih muda
Darahku penuh didih
Siapa yang berontak berpisah dari mimpi
Terkutuklah disumpahi sepi
Bukan apa-apa
Tinggal sekali ini saja aku berkata
Hai muda
Peduli tak peduli urusanmu
Urusanku taklukkan laut
Tempat perahumu terkoyak
(ii)
Zaman tumpah serapah. Kulit terkelupas. Ganti rupa, zaman
ular !
Percayalah, ini lebih gila dari zaman edan Ranggawarsita
: lingkaran darah telah lebih banyak dibangun
untuk saling menerkam. Tak peduli siapa. Asal menang.
Asal kuasa. Asalasalan semua.
Kita masih hijau, masih muda. Tetap saja ditipu zaman.
Tergerus di tanah kita sendiri. Lantas apa lagi, toh kebanyakan
lapuk menjadi pupuk kegembiraan liar. Kebanyakan menatap
kosong kemanusian.
: apa pula itu kemanusiaan. Kemanusiaan sudah masuk
keranjang belanja. Puting susu perempuan segala terbeli.
Jelas bagimu harga kemurahan tuhan itu
Penghianatan pada tuhan.
: Tuhan diterkam tuhantuhan. Hantumu, hai pelayan iblis. Ular
sihir Fir’aun beranak pinak tiada henti, sedang Musa telah mati
di hatimu.
0 kita diserang ularular. Zaman ular menelan kita habishabisan
ke dalam mulutnya. Keyakinan jadi penuh bisa mendera. Kita
Masih terlalu muda untuk jadi ular. Berapa harga kerakusan
dan kepengecutanmu, aku bayar, jika memang ini pesta jual beli
sikap. Mari berpesta. Satu, aku tidak menari sepertimu,
tidak bernyanyi sepertimu. Aku punya caraku, ambisiku sendiri
untuk mengakhiri pesta. Terserah apa katamu, aku juga tidak
peduli bagaimana seluruh gigimu bergetak mengintai darahku.
Ayo, ayo tikam aku zaman ular, terkam aku. Masih kusimpan
kerinduan Musa pada Tuhan di Tursina. Lihatlah hai pelayan
Fir’aun, aku masih berdiri kuat meski tanpa keajaiban tongkat
Musa.
Ular ! Tapi siapa menerkam siapa? Masingmasing menyisakan
lumut pada keteduhan sungaisungainya. Masingmasing
memelihara ular dalam dada. Apa ini,
Kiamat keresahanku? Rengkuh aku, Tuhan, ke dalam
rangkulanMu yang kutahu Sejati. Dan biarkan aku sedikit saja
mencuri kesejatianMu, menjadi bayangbayangMu menantang
ular

Comments»
No comments yet — be the first.