Dengan menciptakanmu sebagai tuhan.
Aku mengira Akan bahagia.
Bagaimana kau mempengaruhi hidupku.
Datang malam-malam tanpa undangan dan kabar pertemuan.
Malam-malam
Dan sejumlah hariku terbakar Hancur dikulum olehmu.
Siapa aku, membuatmu menjadi tuhan yang harus terpuja.
Serupa Paust
Yang menjual jiwanya untuk iblis. Padahal menjadikan
Seekor ulatpun aku tak bisa. Betapa
Namamu jadi beban, lebih dari selingkuh Maria Eva, dan keanggunan palsu Venessa Williem
Di majalah PlayBoy. Sebenarnya aku sudah coba Untuk berhenti memikirkanmu kelewat gila. Meski Belum sampai Segala cara. Sia-sia.
Kehadiranmu memaksaku
Memutar kembali lagu-lagu cengeng yang sebenarnya
Telah lama berjarak dengan telinga.
Aku sudah panggil Pantai dan tasbih, sepi dan sujadah, lebih dari tiga kali.
Namun aku di bawah bayangmu lebih mirip seorang
Lelaki yang memperkosa
Gerak bibir sendiri. Tanpa henti.
Sudah pula Kutinggikan lambaian tangan ke arahmu.
Sekedar Mempertegas ucapan selamat tinggal padamu.
Dan Apapun yang berbau menyiksa. Tetap saja, semua berlari begitu tergesa.
Dan melamban di pelupukmu

