Setelah keletihan cuaca kau temukan kembali
dalam rimba gelap itu. Tubuhmu tak lagi terlihat
berenang di atas kolam. Kau sebut dirimu air tumpah-
Sabit yang lapar purnama. Sedang embun
yang bersetubuh dengan angin mulai jenuh
menggetar matamu. Bilik hatimu berjatuhan
tahun lalu. Bau tanah yang memang telah berjaga
pada senja di urat lehermu
Susut kening yang berkejaran,
Temaram di bawah lampu
Setengah mati
Mengingatkanmu pada koran-koran yang berdarah,
ember tua, dan kopiah seorang kiai yang tersesat
di relung-relung paling gaib.
Malam itu bertasbih menghujat manis bayang-bayang.
Melulu berdoa menjadikan nasib hanyalah kicau burung
pagi hari yang mendadak gersang ketika mimpi penuh sesak
Di saat pecahan-pecahan karang dalam dirimu
tak kuat lagi menantang ombak-
Buaian yang beringas dalam kepengecutan paling lembut.
Dan kau pun buta bencana. Buta gaung waktu.
Dan dengan manja berkata,”
Puisimu kelewat gelap dan suram untuk kusinggahi.”
Aku tahu. Pergilah. Hingga terkapar
Kau jadi bulan yang Terpenggal.

