Bulan Retak

Posted: September 29, 2007 in puisi

Setelah keletihan cuaca kau temukan kembali
dalam rimba gelap itu. Tubuhmu tak lagi terlihat
berenang di atas kolam. Kau sebut dirimu air tumpah-
Sabit yang lapar purnama. Sedang embun
yang bersetubuh dengan angin mulai jenuh
menggetar matamu. Bilik hatimu berjatuhan
tahun lalu. Bau tanah yang memang telah berjaga
pada senja di urat lehermu

Susut kening yang berkejaran,
Temaram di bawah lampu
Setengah mati
Mengingatkanmu pada koran-koran yang berdarah,
ember tua, dan kopiah seorang kiai yang tersesat
di relung-relung paling gaib.
Malam itu bertasbih menghujat manis bayang-bayang.
Melulu berdoa menjadikan nasib hanyalah kicau burung
pagi hari yang mendadak gersang ketika mimpi penuh sesak
Di saat pecahan-pecahan karang dalam dirimu
tak kuat lagi menantang ombak-
Buaian yang beringas dalam kepengecutan paling lembut.
Dan kau pun buta bencana. Buta gaung waktu.
Dan dengan manja berkata,”
Puisimu kelewat gelap dan suram untuk kusinggahi.”
Aku tahu. Pergilah. Hingga terkapar
Kau jadi bulan yang Terpenggal.

harvest_moon_dh_5001.jpg

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s